Chex & Rimba. Diberdayakan oleh Blogger.

Adsensecamp

Mutiara Kata

Hiduplah seperti lilin menerangi orang lain,janganlah hidup seperti duri dan menyakiti orang lain

Berapa Nilai Web/Blog Anda???

Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 08 Mei 2010

Dengan Sedekah hidup menjadi berkah

"Allah selalu menolong hambaNya, selagi sang hamba suka menolong saudaranya" (Muhammad Saw)

"Ma, tolong transfer uang satu setengah juta ke rekening adikku Arif ya…!" ucap Didik kepada Feny istrinya melalui ponsel. "Buat apa, Pa?!" tanya Feny. "Pokoknya kamu kirim saja ke rekening dia lewat sms banking. Hitung-hitung berbagi rezeki. Sepertinya sudah lama kita gak bantu Arif sekeluarga" jelas Didik.

Didik yang sedang berada di atas mobilnya pagi itu tergerak untuk bersilaturahmi kepada Arif adiknya di kampung yang sudah lama tidak ia hubungi. Ingin sekali ia menelpon adiknya sekedar menanyakan kabar, namun ada sejumput rezeki yang ingin ia bagi kepada Arif yang menjadi seorang PNS di Semarang.
Tak lama menunggu, hand phone Didik berbunyi menandakan ada sms masuk dari istrinya mengabarkan bahwa dana Rp 1,5 juta telah ditransfer ke rekening Arif.
Didik membalas sms istrinya, lalu ia pun memutar telpon Arif untuk bersilaturahmi.

"Apa kabarmu, Dik?" tanya Didik kepada Arif. Perbincangan di menit-menit awal begitu akrab antara dua orang saudara kandung yang lama tidak bertemu sebab terpisah jarak. "Oh ya..., baru saja Feny istriku kirim dana satu setengah juta rupiah buat keponakan-keponakanku di Semarang. Silakan dicek apa sudah sampai?!" jelas Didik. "Subhanallah, Alhamdulillah! Terima kasih, Mas. Saya gak ngerti harus ngucap apa ya...?" sambut Arif. "Memangnya kenapa, Rif?" tanya Didik. "Subhanallah... sudah beberapa hari ini saya bingung mau ngutang kemana untuk bayar sekolah Danu. Dia diterima di SMP Negeri, tapi uang pendaftarannya Rp 1.5 juta. Kemana-mana saya cari utangan, gak dapat-dapat. Tapi Alhamdulillah rupanya Allah gerakkan hati mas Didik padahal saya belum cerita tentang hal ini."
Dalam hati, Didik merasa kagum atas skenario Allah ini lalu ia menambahkan, "Sudahlah, itu rupanya sudah Allah atur. Mudah-mudahan dana itu berguna untuk pendidikan Danu!"

Pembicaraan kedua saudara itu berakhir dengan kalimat syukur dan terima kasih yang berulang-ulang dari Arif. Padahal, Didik pun turut bersyukur kepada Allah Swt Sang Maha Pengatur yang sudah menggerakkan hatinya dan Feny untuk mudah membantu keperluan Arif sekeluarga yang sedang dirundung masalah.
"Segala puji bagiMu, ya Allah!" gumam Didik

Hari itu Didik hendak memenuhi sebuah undangan rapat di kantor rekanan tentang proyek pipanisasi gas yang akan dibangun. Sebagai seorang pengusaha pemilik perusahaan Oil & Gas yang berkiprah belasan tahun, saran dan analisa Didik amat dibutuhkan.
Dalam rapat tersebut Didik mendapatkan porsi untuk menjelaskan hal-hal teknis yang pernah ia jumpai di lapangan dalam hal sedemikian. Semua statementnya dicatat oleh seluruh yang hadir di ruangan itu. Hampir 1 jam ia bicara, dan setelah ia memaparkan penjelasannya dan ditambah dengan sedikit diskusi Didik pun berpamitan untuk meninggalkan ruangan rapat karena ada acara yang harus ia hadiri.

Didik bergegas meninggalkan ruang rapat di kantor rekanannya itu. Terdengar oleh telinga Didik ada hak sepatu wanita di belakangnya yang berlari cepat seperti mengejar sesuatu. Benar saja, rupanya wanita itu kini sudah berada di sisi Didik. "Maaf pak Didik saya Amel. Boleh saya minta tanda tangan pak Didik?!" "Tanda tangan untuk apa, Mel? " Didik bertanya. "Ini ada uang kehadiran rapat yang boss titipkan kepada saya untuk pak Didik" jelas Amel.

Didik pun menandatangani sebuah kwitansi berwarna hijau yang tertera nominalnya Rp 3 juta. Setelah kwitansi itu ditandatangani, maka Amel pun menyerahkan selembar amplop yang berisi cek senilai Rp. 3 juta.

Kini Didik sudah berada di atas mobilnya. Hatinya berbunga-bunga dan segera ia menelpon istrinya. "Ma..., ingat gak 2 jam lalu aku memintamu transfer satu setengah juta ke rekening Arif. Subhanallah, dalam tempo dua jam itu, Allah langsung membalas 2 kali lipat dari sedekah kita!!!"

Feny pun berkali-kali berucap hamdalah tanda syukur. Pagi itu Didik & Feny menyaksikan sebuah janji Allah yang nyata bahwa perniagaan di jalan Allah sedikit pun tidak mendatangkan kerugian, akan tetapi malah bertambah, bertambah dan bertambah!

Saya yakin Anda juga pernah merasakannya.... :)

By. Darmawan

terkait: http://www.baitulquran.or.id/

Manfaat dan Pahala Sedekah

Banyak Sekali Manfaat Dan Pahala Sedekah, antara lain :

Dimanakah letak kedahsyatan hamba-hamba Allah yang bersedekah? Dikisahkan dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Turmudzi dan Ahmad, sebagai berikut :
Tatkala Allah SWT menciptakan bumi, maka bumi pun bergetar. Lalu Allah pun menciptkana gunung dengan kekuatan yang telah diberikan kepadanya, ternyata bumi pun terdiam. Para malaikat terheran-heran akan penciptaan gunung tersebut. Kemudian mereka bertanya? “Ya Rabbi, adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada gunung?”


Allah menjawab, “Ada, yaitu besi” (Kita mafhum bahwa gunung batu pun bisa menjadi rata ketika dibor dan diluluhlantakkan oleh buldozer atau sejenisnya yang terbuat dari besi).
Para malaikat pun kembali bertanya, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada besi?”
Allah yang Mahasuci menjawab, “Ada, yaitu api” (Besi, bahkan baja bisa menjadi cair, lumer, dan mendidih setelah dibakar bara api).

Bertanya kembali para malaikat, “Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari pada api?”

Allah yang Mahaagung menjawab, “Ada, yaitu air” (Api membara sedahsyat apapun, niscaya akan padam jika disiram oleh air).

“Ya Rabbi adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih kuat dari air?” Kembali bertanya para malaikta.

Allah yang Mahatinggi dan Mahasempurna menjawab, “Ada, yaitu angin” (Air di samudera luas akan serta merta terangkat, bergulung-gulung, dan menjelma menjadi gelombang raksasa yang dahsyat, tersimbah dan menghempas karang, atau mengombang-ambingkan kapal dan perahu yang tengah berlayar, tiada lain karena dahsyatnya kekuatan angin. Angin ternyata memiliki kekuatan yang teramat dahsyat).

Akhirnya para malaikat pun bertanya lagi, “Ya Allah adakah sesuatu dalam penciptaan-Mu yang lebih dari semua itu?”

Allah yang Mahagagah dan Mahadahsyat kehebatan-Nya menjawab, “Ada, yaitu amal anak Adam yang mengeluarkan sedekah dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya tidak mengetahuinya.”

Artinya, orang yang paling hebat, paling kuat, dan paling dahsyat adalah orang yang bersedekah tetapi tetap mampu menguasai dirinya, sehingga sedekah yang dilakukannya bersih, tulus, dan ikhlas tanpa ada unsur pamer ataupun keinginan untuk diketahui orang lain.

Inilah gambaran yang Allah berikan kepada kita bagaimana seorang hamba yang ternyata mempunyai kekuatan dahsyat adalah hamba yang bersedekah, tetapi tetap dalam kondisi ikhlas. Karena naluri dasar kita sebenarnya selalu rindu akan pujian, penghormatan, penghargaan, ucapan terima kasih, dan sebagainya. Kita pun selalu tergelitik untuk memamerkan segala apa yang ada pada diri kita ataupun segala apa yang bisa kita lakukan. Apalagi kalau yang ada pada diri kita atau yang tengah kita lakukan itu berupa kebaikan.

Karenanya, tidak usah heran, seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas adalah orang-orang yang mempunyai kekuatan dahsyat. Sungguh ia tidak akan kalah oleh aneka macam selera rendah, yaitu rindu pujian dan penghargaan.

Apalagi kedahsyatan seorang hamba yang bersedekah dengan ikhlas? Pada suatu hari datang kepada seorang ulama dua orang akhwat yang mengaku baru kembali dari kampung halamannya di kawasan Jawa Tengah. Keduanya kemudian bercerita mengenai sebuah kejadian luar biasa yang dialaminya ketika pulang kampung dengan naik bis antar kota beberapa hari sebelumnya. Di tengah perjalanan bis yang ditumpanginya terkena musibah, bertabrakan dengan dahsyatnya. Seluruh penumpang mengalami luka berat. Bahkan para penumpang yang duduk di kurs-kursi di dekatnya meninggal seketika dengan bersimbah darah. Dari seluruh penumpang tersebut hanya dua orang yang selamat, bahkan tidak terluka sedikit pun. Mereka itu, ya kedua akhwat itulah. Keduanya mengisahkan kejadian tersebut dengan menangis tersedu-sedu penuh syukur.

Mengapa mereka ditakdirkan Allah selamat tidak kurang suatu apa? Menurut pengakuan keduanya, ada dua amalan yang dikerjakan keduanya ketika itu, yakni ketika hendak berangkat mereka sempat bersedekah terlebih dahulu dan selama dalam perjalanan selalu melafazkan zikir.

Sahabat, tidaklah kita ragukan lagi, bahwa inilah sebagian dari fadhilah (keutamaan) bersedekah. Allah pasti menurunkan balasannya disaat-saat sangat dibutuhkan dengan jalan yang tidak pernah disangka-sangka.

Allah Azza wa Jalla adalah Zat yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang kepada semua hamba-Nya. Bahkan kepada kita yang pada hampir setiap desah nafas selalu membangkang terhadap perintah-Nya pada hampir setiap gerak-gerik kita tercermin amalan yang dilarang-Nya, toh Dia tetap saja mengucurkan rahmat-Nya yang tiada terkira.

Segala amalan yang kita perbuat, amal baik ataupun amal buruk, semuanya akan terpulang kepada kita. Demikian juga jika kita berbicara soal harta yang kini ada dalam genggaman kita dan kerapkali membuat kita lalai dan alpa. Demi Allah, semua ini datangnya dari Allah yang Maha Pemberi Rizki dan Mahakaya. Dititipkan-Nya kepada kita tiada lain supaya kita bisa beramal dan bersedekah dengan sepenuh ke-ikhlas-an semata-mata karena Allah. Kemudian pastilah kita akan mendapatkan balasan pahala dari pada-Nya, baik ketika di dunia ini maupun saat menghadap-Nya kelak.

Dari pengalaman kongkrit kedua akhwat ataupun kutipan hadits seperti diuraikan di atas, dengan penuh kayakinan kita dapat menangkap bukti yang dijanjikan Allah SWT dan Rasul-Nya, bahwa sekecil apapun harta yang disedekahkan dengan ikhlas, niscaya akan tampak betapa dahsyat balasan dari-Nya.

Inilah barangkali kenapa Rasulullah menyerukan kepada para sahabatnya yang tengah bersiap pergi menuju medan perang Tabuk, agar mengeluarkan infaq dan sedekah. Apalagi pada saat itu Allah menurunkan ayat tentang sedekah kepada Rasulullah SAW, “Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah seupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir; seratus biji Allah melipatgandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui,” demikian firman-Nya (QS. Al-Baqarah [2] : 261).

Seruan Rasulullah itu disambut seketika oleh Abdurrahman bin Auf dengan menyerahkan empat ribu dirham seraya berkata, “Ya, Rasulullah. Harta milikku hanya delapan ribu dirham. Empat ribu dirham aku tahan untuk diri dan keluargaku, sedangkan empat ribu dirham lagi aku serahkan di jalan Allah.”

“Allah memberkahi apa yang engkau tahan dan apa yang engkau berikan,” jawab Rasulullah.

Kemudian datang sahabat lainnya, Usman bin Affan. “Ya, Rasulullah. Saya akan melengkapi peralatan dan pakaian bagi mereka yang belum mempunyainya,” ujarnya.

Adapun Ali bin Abi Thalib ketika itu hanya memiliki empat dirham. Ia pun segera menyedekahkan satu dirham waktu malam, satu dirham saat siang hari, satu dirham secara terang-terangan, dan satu dirham lagi secara diam-diam.

Mengapa para sahabat begitu antusias dan spontan menyambut seruan Rasulullah tersebut? Ini tiada lain karena yakin akan balasan yang berlipat ganda sebagaimana telah dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Medan perang adalah medan pertaruhan antara hidup dan mati. Kendati begitu para sahabat tidak ada yang mendambakan mati syahid di medan perang, karena mereka yakin apapun yang terjadi pasti akan sangat menguntungkan mereka. Sekiranya gugur di tangan musuh, surga Jannatu na’im telah siap menanti para hamba Allah yang selalu siap berjihad fii sabilillaah. Sedangkan andaikata selamat dapat kembali kepada keluarga pun, pastilah dengan membawa kemenangan bagi Islam, agama yang haq!

Lalu, apa kaitannya dengan memenuhi seruan untuk bersedekah? Sedekah adalah penolak bala, penyubur pahala dan pelipat ganda rizki; sebutir benih menumbuhkan tujuh bulir, yang pada tiap-tiap bulir itu terjurai seratus biji. Artinya, Allah yang Mahakaya akan membalasnya hingga tujuh ratus kali lipat. Masya Allah!

Sahabat, betapa dahsyatnya sedekah yang dikeluarkan di jalan Allah yang disertai dengan hati ikhlas, sampai-sampai Allah sendiri membuat perbandingan, sebagaimana tersurat dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Anas bin Malik, seperti yang dikemukakan di awal tulisan ini.

By. Darmawan

terkait: wahyusodiq.blogspot.com

Kamis, 08 April 2010

Tafsir Kata al-Hayah dalam Al-Quran

AlquranKata al-hayât (kehidupan) di dalam al-Qur’ân al-Karîm terulang sebanyak seratus tujuh puluh tujuh kali. Kata tersebut terkadang berbentuk fi’il mâdli (kata kerja bentuk lampau) dan terkadang berbentuk fi’il mudlâri’ (kata kerja bentuk sekarang). Adakalanya berbentuk tunggal dan adakalanya berbentuk plural. Sebagaimana kata tersebut terkadang dalam bentuk mashdar (infinitif) dan terkadang juga dalam bentuk isim fâ’il.1
Kata al-hayyu (yang hidup) antonim dari kata al-mayyit (yang mati). Sedangkan kata al-hiyyu (dengan hâ’ kasrah), al-hayawân (dengan semua hurufnya hidup), al-hayât dan al-hayauwt (dengan fathah pada huruf yâ’ dan sukun pada huruf nûn) adalah antonim dari kata al-maut (kematian).2
Kata al-hayât di dalam al-Qur’ân al-Karîm digunakan dalam delapan bentuk:

Pertama: al-hayât dalam pengertian “penciptaan yang pertama”.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:
Kata al-hayât (kehidupan) di dalam al-Qur’ân al-Karîm terulang sebanyak seratus tujuh puluh tujuh kali. Kata tersebut terkadang berbentuk fi’il mâdli (kata kerja bentuk lampau) dan terkadang berbentuk fi’il mudlâri’ (kata kerja bentuk sekarang). Adakalanya berbentuk tunggal dan adakalanya berbentuk plural. Sebagaimana kata tersebut terkadang dalam bentuk mashdar (infinitif) dan terkadang juga dalam bentuk isim fâ’il.1
Kata al-hayyu (yang hidup) antonim dari kata al-mayyit (yang mati). Sedangkan kata al-hiyyu (dengan hâ’ kasrah), al-hayawân (dengan semua hurufnya hidup), al-hayât dan al-hayauwt (dengan fathah pada huruf yâ’ dan sukun pada huruf nûn) adalah antonim dari kata al-maut (kematian).2
Kata al-hayât di dalam al-Qur’ân al-Karîm digunakan dalam delapan bentuk:
Pertama: al-hayât dalam pengertian “penciptaan yang pertama”.
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:
“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?” (Qs. Al-Baqarah (2): 28).
Ungkapan fa ahyâkum (lalu Allah menghidupkan kamu) dalam ayat di atas, bermakna, “kalian sebelumnya belum ada, kemudian Allah menciptakan kamu sekalian sebagai penciptaan yang pertama.”
Juga dalam firman-Nya:
“Dan Dia-lah Allah yang telah menghidupkan kamu, kemudian mematikan kamu, kemudian menghidupkan kamu (lagi), sesungguhnya manusia itu, benar-benar sangat mengingkari ni`mat.” (Qs. Al-Hajj (22): 66).
Kalimat ahyâkum (yang telah menghidupkanmu) pada ayat tersebut, berarti, “Allah telah menciptakan kamu sekalian.”
Dalam ayat-Nya yang lain, Allah Subhânahu wa Ta’âlâ juga berfirman:
“Katakanlah, “Allah-lah yang menghidupkan kamu kemudian mematikan kamu, setelah itu mengumpulkan kamu pada hari kiamat yang tidak ada keraguan padanya; akan tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Qs. Al-Jâtsiyah (45): 26).
Makna yuhyîkum (Allah-lah yang menghidupkan kamu) dalam firman Allah tersebut adalah “katakanlah bahwa Allah-lah yang telah menciptakanmu. Maksudnya, Allah yang telah menciptakanmu pada awal penciptaan.”3

By. Darmawan
terkait: http://www.baitulquran.or.id/

Followers